Archive for June, 2005

Renungan

Monday, June 13th, 2005

Bismillahirrahmnirrahiim,

Aku Bertawakkal Kepada Allah

Abdul Hamid Al-Bilali

-Taujih ruhiyah, Pesan-Pesan Spiritual Penjernih Hati-

Bab II, hal 29-35

(Mencoba Memaknai dan Memahami Arti Tawakkal kepada Allah SWT)

Tawakkal ialah bersandar secara total kepada Allah SWT dan hasilnya ialah beriman secara nyata kepada sebagian nama dan sifat-Nya.

Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah berkata,”Tawakkal itu separuh agama dan separuh lainnya ialah inabah (taubat). Agama itu ibadah dan isti’anah (minta pertolongan). Tawakkal ialah minta pertolongan dan inabah ialah ibadah.”   (Tahdzibu Madariji As-Salikin, hal. 336)

Orang yang bertawakkal kepada Allah SWT harus mencurahkan tenaga dan berusaha. Makna ini terlihat dengan jelas di banyak ayat Al-Qur’an dan sirah Nabi SAW. Allah SWT berfirman:

“Dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah yang melempar.”   (QS. Al-Anfal:17)

Itu terjadi setelah Nabi Muhammad SAW mengambil segenggam tanah dan melemparkannya ke wajah orang-orang kafir di salah satu perang. Lalu, tanah mengenai mata seluruh orang kafir dan menjadi salah satu sebab kemenangan kaum Muslimin.

Allah SWT menghendaki sebab tersebut pada Rasulllah SAW, yaitu melempar segenggam tanah, sedang pemberi kemenangan hakiki adalah Allah SWT sendiri.

Kabar bahagia untuk orang yang menerapkan makna hakiki tawakkal di seluruh aspek kehidupannya:

1.   Ia memiliki kans besar masuk kelompok tujuh puluh ribu orang yang masuk surga tanpa dihisab, seperti disebutkan di Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim serta ayat:

      “Dan mereka bertawakkal kepada Tuhan mereka.”   (QS.Al-Anfal:2)

2.   Pengenalannya kepada Allah SWT meningkat ketika ia merealisir nama dan sifat Allah SWT, seperti Al-Qadir (Mahakuasa), Ar-Razzaq (Pemberi Rizki), Al-Muhyi (Dzat yang menghidupkan), Al-Mumit (Dzat yang mematikan), dll. Ia pun makin dekat dengan-Nya.

3.   Ia tidak melakukan syirik dan tidak tertarik kepada selain Allah SWT. Ia semakin mulia.

4.   Ia makin ridho dengan takdir Allah SWT. Inilah kepasrahan total hati kepada-Nya.

5.   Hatinya tiada lagi takut kepada makhluk. Allah SWT berfirman:

      “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kalian, karena itu, takutlah kepada mereka, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab,’Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah sebaik-baik Pelindung’.”   (QS. Ali Imran:173)

6.   Ia semakin mendapat petunjuk, dilindungi dari hal-hal buruk, dan seluruh kebutuhannya dicukupi. Rasulullah SAW bersabda:

      “Barangsiapa ketika keluar rumah berkata,’Dengan menyebut nama Allah, aku bertawakkal kepada-Nya. Tidak ada daya dan upaya kecuali dengan-Nya,’ * maka dikatakan kepadanya,’Engkau mendapatkan petunjuk, dilindungi, dan dicukupi.’  Syetan berkata kepada Syetan lainnya,’Bagaimana engkau dapat menaklukkan orang yang telah mendapatkan petunjuk, dicukupi, dan dilindungi?’   (Diriwayatkan At-Tirmidzi dan dishahihkan Al-Albani)

      

      *={Bismillahi tawakkaltu ‘alallahi laa hawla wa laa kuwwata illaa billahi}

Siraman Rohani

Monday, June 13th, 2005

Bismillahirrahmaanirrahiim,

Para Pecinta Waktu Fajar

Abdul Hamid Al-Bilali

-Taujih ruhiyah, Pesan-Pesan Spiritual Penjernih Hati-

Bab I, hal 21-27

(Mencoba Mengingat dan Memaknai Urgensi Shalat Shubuh)

“Shalat paling berat pelaksanaannya bagi orang-orang munafik ialah shalat Isya’ dan shalat Shubuh. Andai mereka tahu kebaikan pada keduanya, tentu mereka mengerjakannya kendati dengan merangkak.”   (Diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim)

“Dua raka’at shalat Fajar lebih baik dari dunia dan seisinya.”   (Diriwayatkan Muslim)

“Sungguh, dua raka’at shalat Fajar lebih aku sukai daripada semua dunia.”   (Diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim)

“Siapa mengerjakan shalat Shubuh dan shalat Ashar, ia masuk surga”   (Diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim)

“Siapa pun yang mengerjakan shalat sebelum matahari terbit (shalat Shubuh) dan terbenam (shalat Ashar), maka tidak akan masuk neraka.”   (Diriwayatkan Muslim)

Imam Al-Manawi berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memberi penekanan khusus pada shalat Shubuh dan shalat Ashar, karena mempunyai nilai lebih dibandingkan shalat-shalat lainnya, atau karena disaksikan malaikat yang bertugas malam dan siang hari, atau karena kedua shalat itu sulit dikerjakan manusia, sebab waktu shalat Ashar adalah waktu sibuk sedang shalat Shubuh adalah waktu sulit. Karenanya, barangsiapa memperhatikan kedua shalat itu, ia pasti memperhatikan shalat-shalat lainnya. Barangsiapa mengerjakan kedua shalat itu dengan konsisten, tentu ia lebih konsisten mengerjakan shalat-shalat yang lainnya dan ia nyaris tidak lalai. Jika ia seperti itu, dosa-dosanya diampuni dan ia masuk surga.”    (Faidhu Al Qadir, jilid VI, hal. 146)

Allah Ta’ala berfirman:

“Dan shalat Shubuh. Sesungguhnya shalat Shubuh itu disaksikan.”   (QS. Al-Isra’:78)

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Salam bersabda:

“Malaikat yang bertugas malam dan malaikat yang bertugas siang pergi secara bergantian kepada kalian. Mereka bertemu saat shalat Shubuh dan shalat Ashar. Malaikat yang bertugas malam naik, lalu ditanya Allah, padahal Dia lebih tahudaripada mereka, ‘Bagaimana kalian meninggalkan hamba-hamba-Ku?’ Para malaikat yang bertugas malam menjawab,’Kami tinggalkan mereka sedang mengerjakan shalat dan datang lagi kepada mereka saat mereka mengerjakan shalat’.”   (Diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim)