Mari Mengasah Hati

Assalamu’alaikum wr wb,

Jika Kalian Bersyukur, Aku Tambah Nikmat-Ku Pada Kalian

Abdul Hamid Al-Bilali

-Taujih ruhiyah, Pesan-Pesan Spiritual Penjernih Hati-

Bab III, hal 37-43

(Mencoba Memaknai dan Memahami Arti Bersyukur kepada Allah SWT)

Janji Syetan untuk menggoda manusia:

“Saya pasti (menghalang-halangi) mereka dari jalan-Mu yang lurus. Kemudian saya pasti mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.”   (QS.Al_A’raaf:16-17)

Aisyah Radhiyallahu Anha merasa heran dengan qiyamul lail Rasulullah SAW. Beliau melakukannya hingga kedua kaki beliau bengkak. Dengan nada takjub dan penuh tanda tanya, Aisyah berkata, ‘Engkau masih berbuat seperti ini, padahal Allah SWT telah mengampuni dosa-dosa silammu dan dosa-dosamu pada masa mendatang.’ Rasulullah SAW bersabda, ‘Apakah aku tidak boleh menjadi hamba yang bersyukur?’   (Diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim)

Syukur ialah upaya seluruh organ tubuh untuk mengerjakan apa saja yang diridhai pemberi nikmat (Allah SWT).

Seluruh makna syukur dirangkum Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah dengan perkataannya, “Syukur ialah terlihatnya tanda-tanda nikmat Allah pada lidah hamba-Nya dalam bentuk pujian, di hatinya dalam bentuk cinta kepada-Nya, dan pada organ tubuh dalam bentuk taat dan tunduk.”   (Tahdzibu Madariji As-Salikin, hal.384)

Bentuk konkrit syukur ialah lidah tidak menyanjung selain Allah SWT dan di hati tidak ada kekasih kecuali Dia. Kalaupun seseorang mencintai orang lain, ia mencintainya karena Allah SWT. Lalu cinta ini dialihkan ke organ tubuh, kemudian seluruh organ tubuh mengerjakan apa saja yang diperintahkan kekasih (Allah SWT) dan menjauhi apa saja yang Dia larang. Itulah figur orang syukur sejati.

Seseorang perlu ingat saat dirinya berada dalam kesesatan dan jahiliyah, lalu bagaimana Allah SWT menyelamatkannya dari kegelapan pekat itu kepada cahaya terang. Demikianlah, ia ingat nikmat-nikmat seperti itu, lalu ditindaklanjuti dengan berdakwah ke jalan Allah SWT.

Syukur terbagi dalam dua jenis:

1.   Syukur umum:  terkait dengan dunia. Misalnya bersyukur atas nikmat seperti pakaian, makanan, harta, kesehatan, kendaraan, dll.

2.   Syukur khusus:  terkait dengan akhirat. Misalnya bersyukur atas nikmat iman, tauhid, hidayah, bimbingan hingga bisa beribadah, istri shalehah, anak-anak yang shaleh, dan urusan akhirat lainnya.

Ibnu Al-Qayyim berkata,”Syukur seorang hamba terasa lengkap jika ia memenuhi tiga syarat dan ia dikatakan orang bersyukur jika melengkapi ketiga syarat itu. Ketiga syarat tersebut adalah sbb:

1.   Ia mengakui nikmat Allah SWT pada dirinya

2.   Ia menyanjung Allah SWT atas nikmat itu

3.   Ia menggunakan nikmat itu untuk mendapatkan keridhaan-Nya.”

Semua dari kita tahu bahwa di antara nama Allah SWT itu adalah Ar-Razzaq (Pemberi rizki). Tapi, banyak di antara kita merasa getar-getir jika rizkinya diancam/terancam “dipangkas” orang lain.

“Sesungguhnya jika kalian bersyukur, Kami pasti menambah (nikmat) kepada kalian.”   (QS. Ibrahim:8)

Wassalam

Leave a Reply